Masih adakah Bangsa Indonesia di tahun 2045?
Pertanyaan diatas patut kembali direnungkan seiring makin hancur dan keroposnya kondisi kebangsaan. Bukan hal luar biasa apabila kita mendengar atau pun menyaksikan berbagai peristiwa runtuhnya moral dan adab yang pernah menjadi salah satu keagungan bangsa “tempo doeloe”. Mulai dari tingkah pejabat yang tidak segan menyengsarakan rakyat demi alasan keindahan dan ketertiban serta peningkatan devisa–padahal tidak lain dan tidak bukan demi kepentingan pundi-pundi uang pribadi dan kelompok- hingga pertikaian antar kelompok masyarakat dengan alasan yang tidak masuk akal. Inilah bangsa Indonesia terkini. Bangsa yang tidak lagi memiliki “Inti Jiwa” dan tidak lagi memaknai “Harga Diri”
Seiring perjalanan kebangsaan dengan berbagai aral melintang, kita pernah menjadi bangsa besar yang cukup terkenal di seantero bumi. Kita mempelajari dan mengetahui dari berbagai literature sejarah bagaimana bangsa ini menjadi salah satu tujuan utama para calon cendekia dunia untuk mengkaji ilmu. Mulai zaman Majapahit, Sriwijaya hingga kerajaan Islam yang cukup terpandang. Bahkan diawal abad ke-20 pun bangsa ini tetap menjadi bangsa yang disegani dengan melahirkan tokoh-tokoh cukup terkenal keilmuannya seperti Tan Malaka, Haji Misbach, Soekarno, Hatta, Syahrir dan berbagai tokoh lainya.
Tapi, seiring kemerdekaan pada tahun 1945 sebagai kelanjutan tekad kaum muda progresif tahun 1908 yang kemudian diiringi dengan Sumpah Pemuda 1928 kejayaan bangsa ini semakin lama malah makin memudar? Apa dan siapa yang bersalah dengan semua kondisi ini? Kaum muda yang kehilangan jati diri atau kaum tua yang sudah keblinger yang tidak lagi mau mendengar saran dan pendapat kaum muda?
Untuk menjawab semua ini, seharusnya kita kembali mengurai benang kusut sejarah yang sudah tidak menentu nilai kebenarannya akibat didominasi kepentingan politik dan kelompok. Ternyata, kita semua memang telah melupakan adagium “bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya”. Inilah salah satu penyebab keroposnya bangsa hingga menjalar ke tiap “tulang-tulang” tubuh bangsa. “Tulang-tulang” yang menopang tegaknya bangsa sudah tidak kuat menahan beban tubuh yang berat akibat “dosa” yang terus dikumpulkan anak bangsa. Dosa yang terus menumpuk seiring dengan keropos “tulang” telah menjadi kenyataan pahit segenap anak bangsa masa kini.
Tanpa kita sadari – demi kepentingan pribadi dan kelompok- setiap anak bangsa melakukan pembunuhan karakter terhadap jiwa bangsanya sendiri. Kita tidak lagi pernah memikirkan bagaimana harus bersikap dan bertindak sebagai anak bangsa yang bisa berbangga diri dan menepuk dada sebagai “Putra Putri Ibu Pertiwi”. Kita malah sering berbangga diri apabila mampu dan sanggup untuk setiap saat memenuhi pundi-pundi uang pribadi dan kelompok meski dengan jalan membunuh jiwa bangsa serta menyengsarakan sebagian besar rakyat. Kita telah menjadi anak bangsa yang sanggup melakukan apa saja demi melumpuhkan gerak langkah bangsa untuk mencapai kembali kedigdayaan yang dulu pernah dimiliki bangsa.
Sadar atau tidak, bangsa ini merupakan bangsa yang terlahir dari sejarah panjang berbagai kelompok masyarakat. Dari berbagai kelompok masyarakat yang pernah hidup dan bertempat tinggal di nusantara, lahirlah beberapa suku yang hingga kini masih hidup (-meski tinggal hanya sebuah nama, baik itu suku jawa, melayu, minang, bugis dan lain sebagainya-). Suku yang dulunya terpecah belah, bisa menyatu dalam semangat nation karena adanya sebuah “pemersatu” yang dikenal sebagai musuh bersama. Ya, di tahun 1908 beberapa kelompok suku mencoba menyatukan semangat dalam menghadapi musuh bersama kolonialisme. Semangat tahun 1908, kemudian dituangkan kembali oleh kelompok pemuda progresif 1928 dengan mendeklarasikan SOEMPAH PEMOEDA. Tak ada yang bisa membantah, kemerdekaan 1945 merupakan bayi dari penyatuan “sperma dan ovum” berbagai kelompok dan suku akibat “persenggamaan” di tahun 1908 dan diperkuat pembenihan di tahun 1928 untuk melepaskan bangsa ini dari kolonialisme yang telah memberangus keseluruhan hidup bangsa sehingga rakyat tidak bisa merasakan kekayaan yang dimilikinya sendiri.
Setelah terlahir dengan nama “Republik Indonesia” di tahun 1945 –meski agak premature- tanpa kesiapan proses kelahiran yang pantas dan wajar, bangsa ini kemudian mulai berbenah diri untuk meletakkan diri kembali sejajar dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi. Awal kemerdekaan, pada tahun 1948 dan tahun 1966 kita menghadapi musuh bersama komunisme yang berusaha mengambil alih kekuasaan dengan menggerogoti nilai-nilai luhur kebangsaan. Berbagai hal telah coba dilakukan pemerintahan era Soekarno dan era Soeharto untuk menghadapi ancaman bahaya komunisme ini dengan hasil yang cukup memuaskan.
Seiring runtuhnya komunisme di Indonesia, era pemerintahan di bawah kendali Soeharto ternyata memunculkan masalah baru dengan hilangnya keterbukaan dan partisipasi politik. Setiap kebijakan masa Orde Baru mengarah system pemerintahan terpusat pada satu tangan (-kalau tidak ingin dikatakan diktatorisme-) yang kemudian memunculkan “amarah” kaum muda. Era 90-an, lahir generasi muda yang mencoba meruntuhkan nilai keterpusatan kekuasaan. Keberhasilan kembali diraih dengan semangat kaum muda progresif tahun 1998 dengan runtuhnya Orde Baru melalui symbol utamanya Soeharto.
Namun, meski Orba runtuh dengan jatuhnya Soherato dari tampuk kekuasaan, beberapa pemerintahan era Reformasi dengan pergantian kabinet dan pemimpin tetap tidak mampu memberikan nilai tambah kemajuan rakyat. Hingga saat ini, Indonesia tetap menjadi bangsa yang gamang menatap ke arah mana seharusnya rakyat diarahkan. Akankah bangsa ini dibawa menuju ke persatuan yang semakin kuat ataukah dibawa ke arah perpecahan masing-masing suku?.
Jawabannya tergantung pada kita semua selaku anak bangsa yang memang memiliki tanggung jawab moral dalam mempertahankan keberadaan bangsa bernama INDONESIA. Tapi, untuk mempertahankan suatu prestasi bukanlah hal mudah sebagaimana meraih prestasi. Begitu banyak coba dan goda yang akan terus menghantui usaha mempertahankan bangsa. Kalau saja kita tidak mampu mengantisipasi setiap coba dan goda bukan tidak mungkin bangsa ini hanya akan menjadi catatan sejarah dunia sebagai bangsa yang pernah hadir sementara untuk kemudian kembali hancur karena ulah rakyatnya sendiri. Bukankah Soviet Union telah memberikan contoh “terbaik” sebagai bangsa besar yang harus hancur karena ketidaksiapan mengantisipasi segala coba dan goda dunia internasional?
Pola terbaik yang dapat kita lakukan agar kembali tegak kokoh menatap masa depan adalah dengan melakukan pembenahan diri masing-masing. Setiap individu yang mengaku diri sebagai anak bangsa harus kembali menata diri menemukan inti jiwa sejati sehingga tubuh tidak lagi sekedar organ mekanikal yang didukung struktur keorgananan fisik. Kita membutuhkan tubuh-tubuh anak bangsa yang berjalan dengan JIWA sehingga memiliki kekuatan lebih besar dari apapun juga. Dengan penyatuan tubuh dan jiwa, kita semua akan menjadi manusia yang memiliki jati diri dan bisa berkata yang benar serta tepat bukan hanya berkata sesuai kehendak mulut.
Kondisi kegagalan setiap perjuangan dalam upaya melakukan perubahan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, harus kembali kita kaji ulang secara bersama. Melihat kondisi yang telah berlangsung selama ini, gagalnya setiap perjuangan bersama seluruh rakyat lebih disebabkan karena setiap gerakan perjuangan rakyat tidak pernah tuntas dalam menyelesaikan tugasnya. Perjuangan bersama segenap unsur bangsa selalu terputus di tengah jalan dan tidak mampu untuk mencapai tujuan mulia yang diusung pada awal perjuangan.
Keterputusan perjuangan rakyat dapat dilihat dari beberapa factor penghambat perjuangan yang apabila dikerucutkan terdiri atas :
• Terjadinya “kudeta” kaum tua terhadap nilai-nilai dan semangat perjuangan kaum muda dalam upaya melakukan perbaikan terhadap kehidupan rakyat untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan bersama. Posisi kaum tua setelah keberhasilan perjuangan kaum muda dalam upaya melakukan perbaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selalu berupaya mendominasi penyelesaian permasalahan dengan teori-teori dan pengalaman yang dimilikinya tanpa memperhatikan semangat dan jiwa kaum muda perjuangan.
• Disisi lain, kaum muda yang menjadi ujung tombak setiap perjuangan kerakyatan dalam upaya melakukan pembenahan kehidupan berbangsa dan bernegara menuju pada peningkatan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat ternyata hanya bermodal tekad dan semangat membara tanpa diringi keilmuan yang berarti untuk menuntaskan perjuangannya.
Berangkat dari kondisi ini dan seiring Seabad Kebangkitan Nasional, satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan penggabungan terhadap kaum tua dengan kaum muda agar saling bahu membahu melihat setiap permasalahan kebangsaan. Jangan ada lagi dikotomi kaum muda dan kaum tua pada tubuh bangsa ini yang mengakibatkan pertikaian yang tidak pernah berujung. Mari kita duduk bersama dan mencari alternative solusi pemecahan terbaik. Bukan saatnya kita hanya memikirkan keuntungan pribadi dan kelompok, tapi saatnya kita untuk memikirkan keuntungan yang bisa diraih seluruh rakyat, tidak peduli apa pun suku maupun agamanya karena kita adalah satu, Bangsa Indonesia.
Sabtu, 04 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar